MAKASSAR,PO – Buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday menjadi topik utama dalam forum diskusi buku yang digelar di Sunachi Claro Hotel Makassar, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri kalangan akademisi, sastrawan, penulis, jurnalis, hingga tokoh masyarakat yang turut memberikan pandangan terhadap isi buku tersebut.
Karya setebal 81 halaman, dilengkapi 32 halaman pembuka yang berisi kata pengantar dan epilog, mengisahkan pengalaman pribadi Rahman Rumaday saat bertemu dengan sang kakek (Tete) asal Maluku yang telah lama menetap di Makassar sebelum memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Dalam pengantarnya, Rahman mengisahkan bahwa sang kakek tidak ingin pulang sebelum mewariskan pengetahuan yang dimilikinya. Demi menerima pesan dan ilmu tersebut secara khusus, penulis memilih menyewa sebuah kamar hotel sebagai tempat berlangsungnya pertemuan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Diskusi buku menghadirkan Wakil Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq, S.Kom., M.M. sebagai keynote speaker. Turut menjadi pembicara yakni Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum., akademisi UMI Dr. Syafruddin Muhtamar, M.H., Ketua DPP Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Drs. Muhammad Amir Jaya, serta jurnalis Arwan D. Awing, S.E.
Dalam sambutannya, Anwar Faruq mengapresiasi penyelenggaraan diskusi tersebut serta kehadiran para sastrawan, penulis, dan pegiat literasi. Menurutnya, Rahman Rumaday merupakan sosok penulis yang memiliki kebiasaan mendokumentasikan berbagai pengalaman dalam bentuk tulisan.
Dengan nada berseloroh, Anwar mengatakan hampir setiap aktivitas Rahman selalu berakhir menjadi sebuah tulisan, bahkan percakapan melalui aplikasi pesan singkat pun tak luput dari dokumentasinya. Candaan itu disambut tawa para peserta sebelum ia menutup sambutannya dengan menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu yang hadir memberikan dukungan terhadap penerbitan buku tersebut.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengaku penasaran dengan judul buku yang mengandung kata “mantra”. Salah satunya, Andi Marliah, yang mempertanyakan mengapa buku tersebut tidak memuat mantra secara eksplisit.
Menanggapi hal itu, Rahman Rumaday menjelaskan bahwa keputusan tersebut memang disengaja. Menurutnya, ia lebih memilih menghadirkan kekuatan kata-kata dan membiarkan makna mantra tetap menjadi ruang tafsir bagi setiap pembaca.
Sementara itu, Ketua DPP IPMI, Muhammad Amir Jaya, menilai buku tersebut memiliki daya tarik bukan hanya dari tampilan sampulnya, tetapi juga dari isi yang dipenuhi kutipan-kutipan reflektif serta pesan-pesan kehidupan yang mengundang pembaca untuk merenung lebih dalam.
“Buku ini menyimpan banyak pesan yang bersifat rahasia dan memberikan ruang bagi pembaca untuk memaknainya sendiri,” ujarnya usai mengikuti bincang buku.
Editor : Amin









