iklan Promo

PKM Pa’Bentengang Perkuat Budaya Inovasi, Satu Program Satu Gagasan Solutif

BANTAENG, PO – UPT Puskesmas Pa’Bentengang menggelar Pendampingan Penyusunan Ide Inovasi bagi seluruh penanggung jawab program di Ruang Pertemuan UPT Puskesmas Pa’Bentengang, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membangun budaya inovasi di lingkungan puskesmas sekaligus mendorong lahirnya solusi kreatif dalam menjawab berbagai tantangan pelayanan kesehatan.

Pendampingan menghadirkan Konsultan Pendamping Inovasi Daerah, Abdul Rahman Ramlan, yang memberikan materi mengenai teknik menggali ide inovasi dari permasalahan di lapangan, penyusunan konsep, penentuan nama dan logo inovasi, hingga pemanfaatan berbagai platform digital termasuk teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan inovasi pelayanan publik. Kegiatan turut dihadiri Plt. Kepala UPT Puskesmas Pa’Bentengang, Evy Andry Iriany, S.Farm., Apt., bersama seluruh penanggung jawab program.

Dalam pendampingan tersebut, setiap penanggung jawab program diwajibkan menghasilkan sedikitnya satu ide inovasi yang lahir dari permasalahan nyata di wilayah kerjanya. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan inovasi yang aplikatif, tepat sasaran, dan memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, UPT Puskesmas Pa’Bentengang langsung mendaftarkan sejumlah gagasan inovasi pada Aplikasi Indeks Inovasi Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri. Dua inovasi, yakni KADO EMAS dan TRIASE LANSIA, didaftarkan sebagai Inisiasi Inovasi, sementara GEROBAK SEHAT Pa’Bentengang didaftarkan sebagai Penerapan Inovasi.

Inovasi KADO EMAS (Kolaborasi Aktif Deteksi Optimal untuk Eliminasi Masalah Stunting) yang digagas oleh Vany, Penanggung Jawab Program Gizi, mengusung empat komponen utama, yaitu Tabungan Emas Posyandu, Kolaborasi Aktif, Siklus Emas, dan Stimulasi Cerdas. Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan kunjungan sasaran ke posyandu melalui sistem penghargaan (reward) dan pendekatan life cycle, sehingga deteksi dini masalah gizi dan stunting dapat dilakukan lebih optimal.

Sementara itu, TRIASE LANSIA (Stikerisasi dan Pemetaan Rumah Lansia Berbasis Google Maps) menjadi inovasi yang berfokus pada peningkatan pelayanan kesehatan lansia melalui pemetaan digital dan pemasangan stiker berwarna sesuai tingkat risiko kesehatan. Dengan sistem tersebut, petugas diharapkan lebih mudah menemukan dan memprioritaskan pelayanan kepada lansia yang membutuhkan penanganan segera.

Adapun inovasi GEROBAK SEHAT Pa’Bentengang (Gerakan Ronda Bareng Lacak TB dan Cek Kesehatan Gratis) yang digagas oleh Ns. Suwedi, S.Kep., mengintegrasikan pelacakan aktif kasus tuberkulosis (TB) dengan pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dalam satu kunjungan terpadu berbasis kearifan lokal. Inovasi ini ditargetkan mampu meningkatkan penemuan kasus TB yang belum terlaporkan (under-reported) sekaligus memperluas cakupan masyarakat yang memperoleh layanan CKG hingga mencapai 85 persen.

Plt. Kepala UPT Puskesmas Pa’Bentengang, Evy Andry Iriany, S.Farm., Apt., berharap inovasi tidak hanya menjadi sebuah kompetisi, tetapi menjadi budaya kerja yang terus tumbuh di lingkungan puskesmas.

“Kami ingin setiap program memiliki inovasi yang lahir dari kebutuhan masyarakat. Inovasi yang baik adalah inovasi yang mampu menyelesaikan masalah secara nyata, mudah diterapkan, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Konsultan Pendamping Inovasi Daerah, Abdul Rahman Ramlan, mengapresiasi semangat seluruh penanggung jawab program dalam menggali ide-ide baru. Menurutnya, inovasi pelayanan publik harus dimulai dari keberanian melihat masalah sebagai peluang untuk menciptakan solusi yang lebih efektif.

Melalui kegiatan ini, UPT Puskesmas Pa’Bentengang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya inovasi sebagai bagian dari transformasi pelayanan kesehatan yang adaptif, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat Kabupaten Bantaeng.

Akram

Editor : Amin