iklan Promo
News, Opini  

Profesionalisme Jurnalis Dimulai Dari Niat dan Sikap

Profesionalisme Jurnalis Dimulai Dari Niat dan Sikap

Oleh: Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos. M.Si.
(Pembina Redaksi Publikasi Online)

OPINI PUBLIKASI  – INDONESIA mencatat rekor sebagai pengumpul media online terbanyak di dunia, mengalahkan seluruh negara di benua Eropa. Data Dewan Pers menyebutkan setidaknya terdapat 49 ribu media online yang telah dibangun di Indonesia.

Sebagai pembina pada jajaran Redaksi Media Publikasi Online, saya memiliki obsesi besar, akan tumbuh kembangnya media itu di masa depan, menjajari media online (portal berita) lokal, dan nasional. Maka ketika Bang Alimin, pendiri Publikasi Online mengontak saya akhir pekan ini, dan meminta saya menuliskan pesan bagi awak redaksinya, langsung saya setujui.

Rekan-rekan jajaran redaksi yang saya hormati, dan juga banggakan, keberadaan Publikasi online, bukan hanya sebagai saluran penyebaran informasi, tetapi juga sebagai institusi yang mengemban tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Kepercayaan publik merupakan aset terbesar yang dimiliki media, dan kepercayaan tersebut hanya dapat dipertahankan melalui kepatuhan terhadap etika jurnalistik, integritas, serta profesionalisme dalam setiap proses peliputan, penulisan, penyuntingan, hingga publikasi berita.

Setiap insan redaksi harus menjadikan kebenaran, akurasi, keberimbangan, dan independensi sebagai prinsip utama dalam menjalankan tugas jurnalistik. Penekanan ini terlebih karena selama kurang lebih 15 tahun, saya memilih untuk fokus pada bidang etik Pers.

Sebagai jurnalis, saudara-saudara memiliki fungsi strategis sebagai penyedia informasi yang benar, pendidik masyarakat, pengawas terhadap penyelenggaraan kehidupan publik, sekaligus ruang bagi pertukaran gagasan yang sehat.

Fungsi itu hanya dapat dijalankan apabila setiap karya jurnalistik disusun berdasarkan verifikasi yang memadai, menghormati asas praduga tak bersalah, memberikan hak jawab kepada pihak yang berkepentingan.

Serta tidak kalah pentingnya menghindari pemberitaan yang bersifat provokatif, menghakimi, atau mengejar sensasi semata, atau bahkan sekadar mengejar klik bait, sebagai kebanggan semu.

Profesionalisme jurnalis tidak diukur dari seberapa cepat sebuah berita dipublikasikan, melainkan dari seberapa akurat, adil, dan bertanggung jawab berita tersebut disampaikan kepada publik.

Saya sangat ingin mengingatkan, bahwa setiap anggota redaksi merupakan representasi dari nama baik perusahaan. “Anda dan berita yang baik dan berkualitas, maka media dan perusahaan ikut menjadi baik.”

Sikap, perilaku, dan setiap produk jurnalistik yang diterbitkan akan dinilai sebagai cerminan kredibilitas manajemen dan institusi media secara keseluruhan.

Karenanya, hindarilah segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan, penyalahgunaan profesi, pelanggaran etika, maupun komunikasi yang tidak mencerminkan martabat perusahaan.

Nama baik media dibangun melalui kerja keras bertahun-tahun, namun dapat tercoreng hanya karena satu tindakan yang tidak profesional. Kita telah menyaksikan banyak contoh selama ini.

Sebagai pembina, saya berharap seluruh jajaran redaksi senantiasa menjadikan kode etik jurnalistik, peraturan perusahaan, dan ketentuan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999, juga hukum yang berlaku sebagai pedoman dalam setiap pengambilan keputusan editorial.

Perbedaan pandangan dalam ruang redaksi merupakan hal yang wajar, namun harus diselesaikan melalui mekanisme profesional yang mengedepankan musyawarah, argumentasi berbasis fakta, dan kepentingan publik.

Redaksi juga perlu terus meningkatkan kapasitas melalui pembelajaran berkelanjutan agar mampu menghadapi tantangan jurnalisme digital, termasuk penyebaran disinformasi, tekanan kepentingan, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Akhirnya, saya mengajak seluruh jajaran redaksi untuk memperkuat komitmen dalam menjaga marwah profesi jurnalistik dan kehormatan perusahaan.

Mari jadikan setiap berita sebagai karya yang tidak hanya cepat dibaca, tetapi juga dapat untuk bisa dipertanggungjawabkan secara etis, profesional, dan hukum.

Dengan integritas yang kokoh, disiplin yang tinggi, serta semangat melayani kepentingan publik, saya meyakini media ini akan semakin dipercaya masyarakat, dihormati para pemangku kepentingan, dan mampu menjalankan perannya sebagai pilar demokrasi yang berwibawa.

Lebih penting lagi mampu membawa nama baik manajemen perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi. Semua itu bukan hal mustahil, jangan pernah lupa “Profesionalisme dimulai dari niat dan sikap.”