BEKASI,PO— Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, mengembangkan formulasi pakan ayam petelur berbahan bungkil inti sawit sebagai alternatif untuk menekan biaya produksi peternak.
Formulasi tersebut kini diuji Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BMPSP) Bekasi. Pengujian dilakukan untuk memastikan kualitas, keamanan, serta kesesuaian kandungan nutrisi pakan sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan di tingkat peternak.
Pengujian berlangsung di BMPSP Bekasi pada Jumat (18/9/2026). Pemerintah Kabupaten Tana Tidung mengirimkan empat sampel formulasi untuk diuji.
Dua sampel menggunakan bungkil inti sawit tanpa dedak, sementara dua sampel lainnya masih menggunakan dedak dengan jumlah yang diminimalkan.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo, mengatakan pemanfaatan bungkil inti sawit masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian.
“Bungkil inti sawit ini salah satu bahan yang kita coba gunakan. Potensinya luar biasa di tempat kita dan harganya relatif lebih terjangkau,” ujar Idris.
Menurut dia, inovasi tersebut berangkat dari kebutuhan peternak untuk mendapatkan bahan pakan yang lebih efisien dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di daerah.

Dalam formulasi yang diuji, konsentrat pabrikan tetap digunakan, sementara jagung, dedak, dan bungkil inti sawit menjadi bagian dari komposisi pakan. Formulasi tersebut diarahkan untuk mengurangi penggunaan bahan yang selama ini turut membebani biaya produksi, khususnya dedak.
Kepala BMPSP Bekasi, Iqbal Alim, menegaskan penggunaan bahan pakan lokal perlu didukung pengujian laboratorium agar upaya menekan biaya tidak mengorbankan kualitas maupun kebutuhan nutrisi ayam.
“Pemanfaatan bahan pakan lokal merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan. Namun, setiap formulasi tetap harus melalui pengujian agar kualitas dan kesesuaiannya dapat dipastikan sebelum digunakan oleh peternak,” kata Iqbal.
Ia menjelaskan, murahnya harga bahan baku bukan satu-satunya indikator dalam menentukan efisiensi pakan. Formulasi harus tetap mempertimbangkan kualitas, keseimbangan nutrisi, keamanan, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan ternak.
Hasil pengujian BMPSP Bekasi selanjutnya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan Pemkab Tana Tidung untuk menentukan kelayakan formulasi tersebut sebelum direkomendasikan dan diterapkan kepada peternak.
Jika memenuhi persyaratan teknis, penggunaan bahan pakan lokal tersebut berpotensi memberikan efisiensi terhadap biaya produksi.
Berdasarkan simulasi awal Pemkab Tana Tidung, formulasi berbahan lokal tersebut berpotensi menghemat biaya pakan ayam petelur sekitar Rp1,8 miliar per tahun dibandingkan penggunaan pakan pabrikan.
Namun, angka tersebut masih merupakan simulasi dan belum mencerminkan penghematan yang telah terealisasi. Besaran efisiensi nantinya tetap bergantung pada hasil pengujian, rekomendasi teknis, komposisi formulasi, harga bahan baku, serta penerapannya di tingkat peternak.
Bagi Kementan, pengembangan bahan pakan alternatif berbasis potensi daerah menjadi salah satu langkah untuk memperluas pilihan bahan baku sekaligus mendorong efisiensi usaha peternakan.
Melalui BMPSP Bekasi, Kementan mendorong agar inovasi bahan pakan lokal tetap dibarengi pengujian mutu. Dengan demikian, pemanfaatan bahan yang tersedia di daerah tidak hanya memberikan keuntungan dari sisi biaya, tetapi juga memenuhi standar kualitas dan kebutuhan nutrisi ternak.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas penggunaan bahan baku pakan lokal, menekan biaya produksi, serta memperkuat daya saing peternak ayam petelur di daerah.
Sumber : Kementan RI
Editor : Tim Redaksi









