iklan Promo
News, Ragam  

DPW PGK Sulsel Gelar Seminar, Hadirkan 6 Tokoh Penting

MAKASSAR,PO – Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mengikuti Seminar Kebangsaan yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah PGK Sulawesi Selatan bertajuk “Inklusifitas Pembangunan Daerah Berkelanjutan yang Berbasis Lokal” di Cafe Red Corner pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Selain itu kegiatan ini menghadirkan 4 tokoh sebagai pemateri yang berbagi pengalaman dan strategi pembangunan daerah yang berkelanjutan dengan mengedepankan potensi serta budaya lokal. PGK Sulsel juga menghadirkan DPP PGK yakni Bupati Lahat Bursah Zarnubi, Riyan Hidayat anggota DPRD Provinsi Banten.

Adapun pemateri yang dimaksud Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Bupati Maros H.A.S Andi Chaidir Syam, Wakil Wali Kota Makassar Hj. Aliyah Mustika Ilham.

Pada pembukaan, Munawir Mihzan selaku Ketua DPW PGK Sulsel menyebut kegiatan ini salah satu hasil dari totalitas pihaknya yang bergerak memajukan kepemudaan di Sulsel.

“Kehadiran teman-teman adalah bagian spirit dari kami untuk bergerak memajukan kepemudaan di Sulsel. Totalitas kepengurusan tetap berjalan, eksistensi PGK Sulsel masih ada sampai saat ini. Jadi kegiatan ini selain sebagai sarana syiar, ini menjalin silaturahim mahasiswa di kampus-kampus termasuk yang ada di Makassar,” ujarnya sapaan Nawir.

Lebih lanjut Nawir melaporkan program PGK Sulsel yang akan dijalankan, “tidak ada perjuangan besar tanpa pengorbanan politik, PGK harus menyiapkan generasi yang hebat. Saya memohon kepada tum dan sekjen PGK untuk selalu disupport eksistensi PGK Sulsel. Kondisi PGK Sulsel saat ini sedang restrukturisasi di Kabupaten Kota se Sulsel, kami juga akan lakukan Rakorwil dan pelantikan DPD PGK se Sulsel,” ungkapnya.

Smenatara Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PGK, Bursah Zarnubi dalam sambutannya ia menyampaikan didirikannya PGK merupakan wadah bagi pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan.

“Sekitar 2016 PGK itu didirikan,

PGK tidak akan menjanjikan apa-apa, tapi menjanjikan kita menjadi pemimpin. Diskusi ini di samping kita menambah informasi, juga membangun jaringan untuk membicarakan persoalan kebangsaan kita. Kita ini sebetulnya anak daerah semua, kota ini sebenarnya baru. Prinsipnya akar negara kita ini adalah desa,” ujarnya yang juga selaku Bupati Kabupaten Lahat.

Melihat antusias peserta yang hadir dari mahasiswa, Bursah Zarnubi juga akrab sebagai Ketua Umum Apkasi melontarkan satu pertanyaan yang kemudian ditanggapi mahasiswa. Soal Asta Cita Indonesia, Bursah Zarnubi memandang anak daerah adalah fondasi negara iti sendiri.

“NKRI ini basisnya di sana, sejarahnya NKRI itu hadir di daerah. Tanpa itu NKRI goyah, jadi harus diberikan kekuatan fondasinya. Diberikan kebijakan yang lebih strong dibanding pusat sendiri. Karena daerah adalah tulang punggung bangsa Indonesia. Jadi kalo tdk disentuh oleh nasional, itu akan lemah,” tambahnya.

Ia juga berharap kepada PGK Sulsel untuk melangkah lebih unggul dan maju dalam pembangunan daerah.

“Inklusifitas pembangunan daerah itu musti diatur dengan mekanisme piskal, suatu sistem pendapatan dan pengeluaran negara. Kalo piskal digunakan dengn tidak adil maka akan retak. Belanja APBN kita hampir empat ribu triliun. Naik 10 kali lipat, jadi kalo tidak dikontrol oleh PGK Sulsel, maka kita akan terlengserkan,” tegasnya.

“Desa ini sumber dari segala sumber keterbelakangan, maka penting sekali asta cita nomor 6 itu. Termasuk pembangunan pertanian terutama padi kita. Karena pangan ini tulang punggung negara kita, kata Soekarno. Petani adalah sukoguru, pada tahun 1952 di UI dalam rangka pembangunan Institud Pertanian Bogor,” pungkas Bursah.

Amin R