iklan Promo

Dari Puncak Ketinggian Uluere, Jamal Mapia: Bantaeng Perlu Segera Berbenah Jika Ingin Kebangkitan Itu Nyata

BANTAENG,PO – Aktivis lingkungan Jamal Mapia menilai berbagai dinamika yang terjadi di ruang publik Bantaeng belakangan ini harus menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat demokrasi dan memastikan pembangunan berjalan lebih partisipatif, berkeadilan, dan berpihak kepada masyarakat.

Menurut Jamal, kritik dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa maupun masyarakat sipil merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang sehat. Karena itu, setiap suara yang lahir dari keresahan rakyat seharusnya dipandang sebagai masukan untuk perbaikan, bukan sebagai ancaman.

“Suara rakyat adalah fondasi demokrasi; ketika suara itu dibungkam, yang terancam bukan hanya kebebasan berekspresi, tetapi juga masa depan pembangunan yang partisipatif dan berkeadilan,” ujar Jamal Mapia Sabtu 30 Mei 2026.

Jamal juga menyoroti insiden yang terjadi saat aksi mahasiswa di depan Kantor Bupati Bantaeng pada Jumat, 29 Mei 2026. Aksi yang bertujuan menyampaikan aspirasi tersebut dilaporkan mengalami pembubaran oleh sekelompok warga yang berada di lokasi, sehingga memicu perhatian publik dan menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat sipil.

Menurutnya, peristiwa tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa. Sebab, hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum merupakan bagian dari prinsip demokrasi yang harus dihormati dan dijaga bersama.

“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, setiap pihak harus mengedepankan dialog dan saling menghormati. Aspirasi tidak boleh dibalas dengan intimidasi atau tindakan yang berpotensi membatasi ruang kebebasan warga negara,” tegasnya.

Pria yang selama ini aktif dalam berbagai isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat itu mengatakan bahwa dari puncak-puncak Uluere, masyarakat sesungguhnya tidak sedang menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin pembangunan yang benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, sekaligus ruang demokrasi yang tetap terbuka bagi seluruh warga.

Menurutnya, kebangkitan Bantaeng tidak boleh berhenti pada slogan dan narasi semata. Kebangkitan harus diwujudkan dalam pelayanan publik yang lebih baik, pemerataan pembangunan, perlindungan lingkungan, serta penghormatan terhadap hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

“Dari pegunungan Uluere hingga kawasan pesisir, masyarakat memiliki harapan yang sama. Mereka ingin merasakan manfaat pembangunan secara nyata dan ingin suara mereka menjadi bagian dari arah pembangunan daerah,” katanya.

Jamal menegaskan bahwa daerah yang maju bukanlah daerah yang sepi kritik. Sebaliknya, kemajuan lahir dari keberanian mendengar berbagai pandangan dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk terus berbenah.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan dan demokrasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika ruang partisipasi masyarakat terjaga, maka kepercayaan publik akan tumbuh dan pembangunan akan memiliki fondasi yang lebih kuat.

“Dari puncak Uluere, saya melihat bahwa masyarakat tidak membutuhkan kegaduhan yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan solusi, keterbukaan, dan keberanian untuk mendengar suara rakyat. Jika Bantaeng ingin kebangkitan itu benar-benar nyata, maka yang harus dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga kepercayaan publik dan ruang demokrasi yang sehat,” ujarnya.

Bagi Jamal, masa depan Bantaeng tidak hanya ditentukan oleh capaian pembangunan yang terlihat secara fisik, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen daerah untuk menjaga demokrasi, merawat lingkungan, dan menghadirkan keadilan bagi masyarakat hingga ke pelosok desa.

“Karena kebangkitan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang terlihat di pusat kota. Kebangkitan yang sejati adalah ketika manfaat pembangunan dan penghormatan terhadap suara rakyat dapat dirasakan hingga ke lereng-lereng Uluere, pesisir, dan seluruh pelosok Bantaeng. Jika ingin bangkit, maka Bantaeng harus berani berbenah,” pungkasnya.

Kontri : Abhy