BANTAENG,PO – Tokoh Pemuda Bantaeng, Alif Tawakkal, mengajak seluruh elemen kepemudaan di Kabupaten Bantaeng untuk mengakhiri polemik pasca-Musyawarah Daerah (Musda) XVI DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan kembali memperkuat persatuan organisasi.
Menurut Alif, dinamika yang terjadi selama proses kontestasi merupakan bagian dari demokrasi organisasi. Karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat menunjukkan kedewasaan, sikap sportif, serta kebesaran hati dalam menerima hasil Musda.
Ia menegaskan, setelah proses pemilihan selesai dan Fitrah Afriandi, S.Sos., M.AP., memperoleh suara terbanyak serta terpilih sebagai Ketua DPD KNPI Bantaeng, maka kepentingan organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kandidat.
“Musda adalah ruang demokrasi untuk menentukan kepemimpinan organisasi. Perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar. Namun, setelah proses itu selesai, seluruh kandidat dan elemen pemuda harus mampu menunjukkan kedewasaan dengan menghormati hasil yang telah ditetapkan melalui mekanisme Musda,” ujar Alif Tawakkal, Senin 2 November 2026.
Ia juga mengingatkan agar dinamika pasca-Musda tidak terus berkembang menjadi polemik melalui narasi-narasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, penyampaian keberatan terhadap proses organisasi tetap memiliki ruang sepanjang dilakukan melalui mekanisme yang berlaku, disertai fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan sampai energi pemuda habis hanya untuk memperpanjang perdebatan. Jika ada hal yang perlu diklarifikasi, mari gunakan ruang organisasi secara terbuka dan sesuai aturan. Jangan membangun opini yang justru memperkeruh suasana dan merugikan kepentingan pemuda Bantaeng,” tegasnya.
Alif berpandangan, kemenangan dalam Musda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk membangun organisasi yang lebih terbuka, inklusif, dan produktif.
Karena itu, kandidat yang belum memperoleh suara terbanyak diharapkan dapat menunjukkan sikap kenegarawanan dengan tetap berkontribusi bagi organisasi. Sebaliknya, ketua terpilih juga dituntut membuktikan komitmennya dengan merangkul seluruh kandidat, organisasi kepemudaan, komunitas, serta berbagai elemen generasi muda tanpa membedakan latar belakang dukungan.
“Yang belum mendapatkan mandat jangan merasa kehilangan ruang untuk mengabdi. Begitu pula yang terpilih jangan merasa hanya menjadi ketua bagi kelompok pendukungnya. KNPI adalah rumah bersama seluruh pemuda Bantaeng,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Alif menekankan pentingnya mengawal visi dan misi yang telah disampaikan Fitrah Afriandi selama proses pencalonan. Seluruh gagasan tersebut harus diterjemahkan menjadi program kerja yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat bagi generasi muda.
Menurutnya, KNPI Bantaeng ke depan perlu lebih progresif dalam membuka ruang edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kreativitas, kewirausahaan, kepemimpinan, serta pemberdayaan pemuda di berbagai sektor.
Organisasi kepemudaan juga diharapkan mampu menjadi jembatan kolaborasi antara generasi muda dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, serta berbagai komunitas untuk mendorong percepatan pembangunan Kabupaten Bantaeng.
“Pemuda Bantaeng harus keluar dari sekat-sekat perbedaan. Kita membutuhkan ruang-ruang yang lebih edukatif, produktif, dan inspiratif. Jangan hanya ramai ketika momentum pemilihan, tetapi harus hadir dengan gagasan, karya, dan kontribusi nyata bagi daerah,” tambahnya.
Alif juga mengajak seluruh pemuda untuk memberikan kesempatan kepada kepengurusan baru dalam menjalankan amanah organisasi, sekaligus tetap menjalankan fungsi kontrol melalui kritik yang objektif, konstruktif, dan berorientasi pada perbaikan.
Ia menilai, keberhasilan kepemimpinan KNPI tidak semata-mata diukur dari proses terpilihnya seorang ketua, tetapi dari sejauh mana organisasi mampu menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan pemuda dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Jangan lagi menjadikan perbedaan dalam Musda sebagai alasan untuk saling menjatuhkan. Mari kita dukung proses konsolidasi, kawal program kerjanya, dan berikan masukan yang membangun. Jika ada kekurangan, perbaiki bersama, bukan memperbesar persoalan,” tegas Alif.
Di akhir pernyataannya, Alif mengajak seluruh elemen kepemudaan menjadikan Musda XVI sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan menyatukan kembali energi generasi muda Bantaeng.
“Musda boleh melahirkan pemenang, tetapi membangun masa depan pemuda Bantaeng adalah tanggung jawab kita bersama. Saatnya berhenti memperpanjang polemik, memperkuat persatuan, dan membuktikan bahwa pemuda mampu menjadi bagian dari solusi serta motor penggerak kemajuan daerah,” tutupnya.
Abhy/Editor Hendri









