iklan Promo

Forum Fikrah Nahdlyiah Resmi Diluncurkan di Bantaeng, PCNU Dorong Gagasan Strategis

BANTAENG, PO — Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bantaeng membuka ruang baru untuk mempertemukan pemikiran, membaca perubahan, dan merumuskan gagasan strategis melalui Forum Fikrah Nahdlyiah (FFN).

Bukan sekadar ruang untuk berbicara, FFN diharapkan menjadi ruang yang mampu mengolah gagasan menjadi ikhtiar nyata bagi organisasi dan umat.

Forum yang diinisiasi Lakpesdam NU Cabang Bantaeng tersebut resmi diluncurkan dalam pertemuan perdana di Alonica Cafe, Jalan Ratulangi No. 14, Letta, Kecamatan Bantaeng, Sabtu (3/10/2026).

FFN dirancang sebagai ruang kolaborasi pemikiran strategis Nahdlyin untuk memperkuat organisasi sekaligus memperluas pengabdian kepada umat berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Ketua Tanfidziyah PCNU Bantaeng, Dr. H. Muh. Ahmad Jailani, S.Ag., MA., mengapresiasi lahirnya forum tersebut. Menurutnya, ruang pemikiran seperti FFN penting untuk memperkuat kontribusi NU di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.

“Terima kasih kepada sahabat sekalian atas kehadirannya. Semua ini tidak akan berjalan tanpa adanya kecintaan kita kepada agama. Kami sangat berharap sumbangsih pemikirannya untuk PBNU sehingga dapat berkontribusi kepada umat,” ujarnya.

Ia menyebut, gagasan mengenai penguatan ruang pemikiran di lingkungan NU telah menjadi bagian dari perhatian organisasi sejak Muktamar NU pada Juli lalu.

Pertemuan perdana FFN dipandu Dr. Abdul Rahman Ramlan, S.Pd., MM., yang juga merupakan Ketua Lakpesdam NU Cabang Bantaeng.

Sejak awal, FFN tidak diposisikan sebagai ruang eksklusif milik Lakpesdam. Forum ini dibangun sebagai ruang bersama yang mempertemukan akademisi, intelektual, aktivis, praktisi, kader, serta penggerak lembaga dan Badan Otonom NU.

Gagasan pembentukan FFN berangkat dari sebuah kegelisahan sekaligus harapan. Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, NU tidak hanya membutuhkan gerakan di lapangan, tetapi juga ruang untuk membaca perubahan, bertukar perspektif, dan merumuskan respons secara lebih strategis.

“Bukan forum untuk sekadar berbicara. Tetapi ruang untuk menggali gagasan, mempertemukan perspektif, membaca persoalan secara lebih jernih, dan jika memungkinkan, mengubah pemikiran menjadi ikhtiar nyata bagi NU dan umat,” demikian semangat yang melandasi pembentukan FFN.

Dalam diskusi perdana, Ketua RMI/MUI Bantaeng, KH. Hamzah Israil, turut membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah Madrasah Aliyah (MA).

Peluang tersebut menjadi salah satu gagasan yang dapat dikembangkan dalam agenda kolaborasi FFN, khususnya dalam memperkuat kontribusi NU di sektor pendidikan.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Bantaeng, Juju Nurfajri, menyoroti pentingnya penguatan kaderisasi di lingkungan Badan Otonom NU, seperti IPNU, IPPNU, GP Ansor, dan Fatayat NU.

Ia juga mendorong adanya pembicaraan lanjutan untuk memperkuat kelembagaan sehingga gagasan yang muncul dalam FFN tidak berhenti sebagai bahan diskusi.

Di titik inilah pesan utama peluncuran FFN menemukan relevansinya.

Forum ini tidak hanya dituntut menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran, tetapi juga memiliki ruang untuk mengembangkan gagasan tersebut menjadi agenda, kolaborasi, dan aksi yang dapat memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat.

Menutup rangkaian kegiatan, PCNU Bantaeng kembali menegaskan bahwa FFN diharapkan mampu menjawab kebutuhan NU dalam menghadapi berbagai kondisi kekinian.

“Ini benar-benar bukan sekadar launching, tetapi harus sangat berdampak dalam keberadaan kita di tengah-tengah umat,” tegas PCNU Bantaeng.

Pesan tersebut diperkuat Katib Syuriah PCNU Bantaeng, KH. Abd. Khaliq Paera, yang menutup kegiatan dengan doa.

Ia menekankan agar peluncuran FFN benar-benar diikuti aksi dan realisasi.

“Launching harus benar-benar berdampak, ada aksi dan ada realisasi,” pesannya.

Peluncuran FFN dengan demikian bukan menjadi titik akhir, melainkan awal dari perjalanan sebuah ruang pemikiran di tubuh NU Bantaeng.

Sebab, gagasan strategis tidak cukup hanya untuk diperbincangkan. Ia perlu diuji, dikembangkan, dan diterjemahkan menjadi langkah nyata.

Dari ruang inilah FFN diharapkan tumbuh: mempertemukan fikrah, memperkuat organisasi, dan menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan NU, umat, dan masyarakat Bantaeng.

Abhy