JAKARTA,PO – Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, bencana alam hingga potensi gangguan rantai pasok mendorong sejumlah negara memperkuat kesiapan pangan nasional. Di tengah situasi tersebut, Indonesia mengklaim memiliki ketersediaan beras yang relatif kuat dengan total mencapai sekitar 25 juta ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, kekuatan pangan Indonesia ditopang produksi dalam negeri, cadangan beras pemerintah (CBP), potensi panen dari tanaman yang masih berada di lahan (standing crop), serta persediaan beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Amran dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu (1/11/2026).
Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton. Angka tersebut terdiri atas 4,5 juta ton cadangan Perum Bulog, sekitar 10 juta ton potensi produksi dari tanaman yang siap dipanen, serta 10 juta ton stok di sektor horeka.
Jumlah tersebut jauh melampaui kebutuhan beras nasional yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton per bulan.
Amran menegaskan, ketahanan pangan tidak boleh hanya bergantung pada kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini. Indonesia juga harus memiliki kemandirian produksi agar tidak rentan ketika terjadi krisis internasional yang menghambat perdagangan dan distribusi pangan.
“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mengantisipasi dampak perubahan iklim, Kementerian Pertanian terus memperkuat sejumlah program strategis. Di antaranya optimalisasi lahan pertanian, pompanisasi, serta penyediaan benih unggul guna meningkatkan produktivitas dan menjaga kesinambungan pasokan pangan.
Meski demikian, Amran mengingatkan bahwa capaian ketersediaan pangan tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah. Peningkatan produksi, penguatan cadangan, dan perlindungan terhadap petani harus terus menjadi prioritas.
“Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.
Pemerintah pun dituntut menjaga konsistensi kebijakan pangan dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan produksi, penguatan cadangan, hingga kelancaran distribusi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan nasional di tengah dinamika dan ancaman krisis global.
Kementan RI
Editor : Tim Redaksi









