TANGERANG,PO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan industri peternakan nasional. Lonjakan kebutuhan protein hewani, seperti telur, daging ayam, dan susu, harus diimbangi kesiapan produksi, penguatan rantai pasok, serta hilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi peternak dalam negeri.
Peluang tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pembukaan Nusantara Livestock & Poultry Expo 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (4/11/2026).
Melalui ajang tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kebutuhan protein hewani nasional dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang hadir dalam kegiatan itu, menegaskan bahwa MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak pasar produk pangan nasional.
Menurutnya, kebutuhan telur, daging ayam, dan susu dalam program MBG harus mampu membuka ruang usaha lebih luas bagi peternak serta meningkatkan penyerapan hasil produksi dalam negeri.
“MBG harus menjadi instrumen yang dapat membantu menjaga keseimbangan stok dan harga pangan. Ketika harga komoditas terlalu tinggi, masyarakat harus tetap mendapatkan pangan dengan harga terjangkau. Sebaliknya, ketika harga di tingkat produsen terlalu rendah, peternak juga perlu mendapatkan dukungan agar tetap dapat menjalankan usahanya,” ujar Sudaryono.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan penggunaan susu segar dalam penyediaan pangan bagi penerima manfaat MBG. BGN mendorong penggunaan susu dengan kandungan susu segar minimal 80 persen sebagai salah satu upaya memperkuat keterkaitan program tersebut dengan peningkatan produksi susu dalam negeri.
Dukungan terhadap penguatan industri peternakan juga disampaikan Gubernur Banten, Andra Soni. Ia menilai peningkatan kebutuhan protein hewani harus menjadi momentum bagi daerah untuk memperkuat kapasitas produksi dan mengoptimalkan potensi peternakan lokal.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal beras. Protein hewani merupakan bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Karena itu, kita harus memastikan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri dan melibatkan peternak serta pelaku usaha lokal,” kata Andra Soni.
Menurutnya, peluang dari program MBG harus dimanfaatkan seluruh mata rantai industri, mulai dari peternak, industri pakan, usaha pembibitan hingga pelaku usaha pengolahan pangan.
Ketersediaan pasokan yang cukup, berkualitas, dan berasal dari produsen dalam negeri menjadi faktor penting agar peningkatan permintaan tidak justru bergantung pada produk dari luar negeri.
Untuk mendukung penguatan sektor tersebut, Pemerintah Provinsi Banten terus mendorong transformasi pertanian dan peternakan melalui modernisasi, mekanisasi, penerapan teknologi, serta pengembangan infrastruktur. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan regenerasi petani maupun peternak juga menjadi perhatian agar generasi muda tertarik mengembangkan usaha di sektor pangan.
Di sisi lain, Kementan menekankan bahwa peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan. Hal tersebut disampaikan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, dalam agenda Nusantara AgriFuture Summit.
Makmun menjelaskan, pengembangan peternakan berkelanjutan harus bertumpu pada tiga aspek utama, yakni budaya, lingkungan, dan ekonomi. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar kegiatan peternakan tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya.
Aspek budaya mencakup penguatan pengetahuan, keterampilan, serta penerapan standar operasional dalam usaha peternakan. Aspek lingkungan berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan limbah secara bertanggung jawab. Sementara aspek ekonomi diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan peternak.
Salah satu potensi yang perlu dikembangkan, menurut Makmun, adalah pengolahan limbah peternakan dan biomassa pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.
Kotoran ternak, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Selain mengurangi potensi pencemaran lingkungan, pemanfaatan hasil samping peternakan juga dapat membuka sumber pendapatan tambahan bagi peternak.
“Di peternakan sesungguhnya terdapat potensi yang sangat besar dari hasil samping usaha, termasuk kotoran ternak. Jika dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi berbagai tanaman dan memiliki nilai ekonomi bagi peternak,” ujarnya.
Makmun juga menilai regenerasi pelaku usaha menjadi faktor penting dalam membangun industri peternakan yang lebih modern dan kompetitif.
Keterlibatan generasi muda, perguruan tinggi, asosiasi, serta tenaga terdidik diperlukan untuk menghadirkan inovasi, memperbaiki manajemen usaha, dan meningkatkan efisiensi produksi melalui pemanfaatan teknologi.
“Kami mendorong keterlibatan generasi muda, perguruan tinggi, asosiasi, dan pelaku usaha untuk bersama-sama menghadirkan inovasi dan model bisnis peternakan yang lebih efisien,” ucapnya.
Berbagai agenda dalam Nusantara Livestock & Poultry Expo 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku industri, peneliti, pemerintah, dan mitra usaha dalam membahas masa depan sektor peternakan nasional.
Sejumlah isu strategis menjadi perhatian, mulai dari penguatan rantai pasok protein hewani, peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi, pengelolaan limbah, hingga percepatan hilirisasi produk peternakan.
Peluang pasar yang terbuka melalui program MBG kini menjadi tantangan sekaligus momentum bagi industri peternakan nasional. Pemerintah dituntut memastikan peningkatan kebutuhan pangan bergizi berjalan seiring dengan penguatan produksi dalam negeri, kepastian penyerapan hasil ternak, dan harga yang menguntungkan peternak.
Dengan kolaborasi yang kuat dari hulu hingga hilir, program MBG diharapkan tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan industri peternakan serta meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia.
Kementan RI
Editor : Tim Redaksi










