PALOPO,PO – Pengukuhan Prof. Dr. Andi Alim, S.KM., M.Kes sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Kesehatan Masyarakat Universitas Mega Buana Palopo menjadi momentum penting dalam memperkuat perspektif sosial dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sabtu (20/6/2026), Prof. Andi Alim mengangkat tema “Transformasi Sosial, Kesehatan, dan Keadilan: Membangun Paradigma Sosiologi Kesehatan yang Emansipatoris dan Transformatif.” Melalui orasi tersebut, ia menegaskan bahwa kesehatan yang berkeadilan tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan fasilitas kesehatan dan layanan medis, tetapi juga membutuhkan perubahan sosial yang menyentuh akar ketimpangan di masyarakat.
Menurutnya, kesehatan selama ini kerap dipandang secara sempit sebagai persoalan penyakit dan pengobatan. Padahal, berbagai persoalan kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kemiskinan, pendidikan, budaya, ketimpangan ekonomi, akses terhadap sumber daya, hingga relasi kekuasaan yang berkembang dalam kehidupan sosial.
“Ketidakadilan sosial akan selalu melahirkan ketidakadilan kesehatan. Karena itu, upaya mewujudkan masyarakat yang sehat harus dibarengi dengan transformasi sosial yang menyeluruh,” ujarnya dalam orasi ilmiah.
Dalam pemaparannya, Prof. Andi Alim mengulas berbagai hasil penelitian yang telah ia lakukan selama lebih dari dua dekade. Penelitian mengenai malnutrisi menunjukkan bagaimana sistem kapitalisme pangan memengaruhi pola konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara kajian tentang stunting mengungkap pentingnya modal sosial keluarga dan komunitas dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Ia juga menyoroti penelitian terkait HIV/AIDS yang menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi sering kali menjadi hambatan yang lebih berat dibandingkan penyakit itu sendiri. Selain itu, kajian mengenai marginalisasi kelompok etnis, pertentangan antara pengetahuan medis dan pengetahuan lokal, serta persoalan keselamatan kerja memperlihatkan kuatnya pengaruh faktor sosial terhadap derajat kesehatan masyarakat.
Berangkat dari berbagai temuan tersebut, Prof. Andi Alim memperkenalkan Paradigma Emansipatoris Sosiologi Kesehatan, sebuah model teoritis yang menempatkan kesehatan sebagai hasil interaksi antara struktur sosial, relasi kuasa, budaya, modal sosial, dan pengetahuan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Paradigma tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi lahirnya kebijakan dan program kesehatan yang lebih inklusif, partisipatif, serta berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah rumah sakit atau tenaga medis yang tersedia, melainkan juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh akses yang setara terhadap layanan kesehatan, terlibat dalam pengambilan keputusan, serta memiliki kemampuan untuk menjaga kesehatannya secara mandiri.
Ke depan, Prof. Andi Alim mengajak kalangan akademisi dan peneliti untuk memperkuat kajian mengenai keadilan kesehatan, intervensi berbasis budaya, peningkatan literasi kesehatan generasi muda, serta pemberdayaan kelompok rentan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus hadir sebagai instrumen perubahan sosial yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.
Pada akhir orasinya, Prof. Andi Alim menyampaikan bahwa jabatan Guru Besar merupakan amanah akademik untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
“Kesehatan bukan semata urusan rumah sakit atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa,” tegasnya.
Pengukuhan Guru Besar ini sekaligus menjadi tonggak penting bagi Universitas Mega Buana Palopo dalam memperkuat kontribusi akademiknya di bidang kesehatan masyarakat. Gagasan yang disampaikan Prof. Andi Alim diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kebijakan kesehatan yang lebih berkeadilan, demokratis, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat di Indonesia.
Mul
Editor : Hendri









