iklan Promo
News  

Bukan Sekadar Sembelih: Saat Diaspora Takalar Gagas Gerakan Literasi Qurban Nasional via Webinar Hibrida

TAKALAR – Idul Adha selalu datang membawa dua potret yang kontras. Di satu sisi, semangat berbagi meluber ke mana-mana. Di sisi lain, pemandangan penyembelihan hewan qurban yang jauh dari standar kesehatan dan kesejahteraan hewan masih kerap dijumpai di berbagai daerah. Kegelisahan inilah yang rupanya mengusik hati Badan Pengurus Nasional (BPN) Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku, sebuah organisasi diaspora Takalar yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

Alih-alih menjadi penonton, mereka memilih menjadi penggerak. Berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Takalar dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar, mereka merancang sebuah gerakan edukasi berskala nasional bertajuk Webinar Nasional Qurban Syar’i & Sehat, yang akan digelar pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 08.00–11.00 WIB (09.00–12.00 WITA).

Yang membuat inisiatif ini istimewa bukan hanya karena temanya yang krusial, melainkan juga pendekatannya yang inklusif dan inovatif. Acara ini digelar secara hibrida: bisa diakses dari seluruh Indonesia melalui Zoom, namun juga bisa dihadiri langsung di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar. Ini adalah potret bagaimana diaspora Takalar memanfaatkan teknologi untuk menyatukan kampung halaman dengan dunia luar.

Namun, urat nadi kegiatan ini sesungguhnya terletak pada sesi luring yang dikhususkan bagi para Imam Desa se-Kabupaten Takalar. Bukan sekadar mendengar teori, mereka akan mengikuti sesi praktik penanganan dan penyembelihan hewan qurban. Ini adalah strategi jangka panjang yang cerdas: menjadikan para imam desa sebagai ujung tombak literasi qurban di tengah masyarakat. Merekalah yang nantinya akan menjadi rujukan warga saat Idul Adha tiba, memastikan setiap hewan yang disembelih tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga higienis dan manusiawi.

Pilihan pemateri juga menunjukkan ambisi besar kegiatan ini. Dr. H.M. Ridwan Yahya, Lc., MA., Ketua Komisi Dakwah MUI Provinsi DKI Jakarta, didapuk untuk mengupas tuntas tema “Pemilihan dan Penyembelihan Hewan Qurban yang Syar’i dan Sehat”. Kehadiran narasumber sekaliber ini menegaskan bahwa Takalar tidak ingin setengah-setengah dalam mendidik warganya.

Di balik semua ini, ada pesan yang lebih dalam: bahwa pengabdian kepada kampung halaman tidak selalu harus dilakukan dengan pulang secara fisik. Diaspora Takalar yang tergabung dalam Panrannuangku membuktikan bahwa kepedulian bisa dikemas dalam bentuk transfer pengetahuan, jejaring, dan gagasan. Mereka menjadikan Idul Adha bukan lagi sekadar ritual tahunan, tetapi panggung edukasi nasional.

Jika biasanya webinar hanya menjadi ajang seremonial tanpa dampak, kegiatan ini berpotensi menjadi pengecualian. Karena ketika para imam desa kembali ke wilayahnya masing-masing dengan keterampilan baru di tangan, maka ribuan hewan qurban di Takalar tahun ini akan diperlakukan dengan lebih bermartabat. Itulah esensi sejati dari pengorbanan: memuliakan makhluk Allah sebelum akhirnya disembelih atas nama-Nya. (*)