TAKALAR – Di balik pengumuman membanggakan yang menempatkan Kabupaten Takalar sebagai Peringkat 2 Nasional dalam pengelolaan Program Indonesia Pintar (PIP) 2026, tersimpan cerita tentang pertarungan melawan ketidakakuratan data dan kerja senyap puluhan aparatur yang jarang tersorot.
Penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini bukanlah sekadar plakat yang diterima Kadisdikbud Takalar, Dody Riyan Saputra, dari Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Ir. Suharti, M.A., Ph.D. Lebih dari itu, ini adalah pengakuan nasional terhadap efektivitas dan transparansi pengelolaan bantuan pendidikan di daerah yang dipimpin Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye ini.
Lantas, apa yang membuat Takalar begitu istimewa di mata nasional?
Jika ditelisik, kunci suksesnya terletak pada satu kata: validasi. Di era di mana bantuan sosial kerap kali salah sasaran, tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Takalar memilih jalan yang tidak populer namun krusial. Puluhan PIC (Person In Charge) bahu-membahu memastikan setiap nama siswa penerima manfaat adalah mereka yang benar-benar berhak. Mereka bergelut dengan sistem aplikasi SIPINTAR, memeriksa data, dan melakukan verifikasi hingga ke pelosok-pelosok sekolah.
Ini adalah kerja yang tidak glamor. Tidak ada sorotan kamera setiap hari. Tapi dari situlah fondasi penghargaan nasional ini dibangun.
Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye pun memahami betul bahwa prestasi ini bukanlah hasil kerja satu malam. Dalam sambutannya, ia sengaja menggeser fokus dari dirinya kepada para aktor pendidikan di lapangan.
“Peringkat 2 Nasional ini bukan hanya angka. Ini adalah hasil kerja keras semua pihak. Mulai dari guru di pelosok, kepala sekolah yang tak kenal lelah, hingga tim Disdikbud yang mati-matian memastikan data siswa penerima PIP akurat,” tegas Daeng Manye.
Pernyataan Bupati ini sekaligus membongkar mitos bahwa keberhasilan pembangunan hanya bertumpu pada figur pemimpin. Sebaliknya, ini adalah kemenangan sistem yang digerakkan oleh orang-orang di garis depan: guru-guru yang mendata muridnya dengan cermat, kepala sekolah yang teliti melaporkan kondisi siswa, dan operator SIPINTAR yang memastikan sistem berjalan mulus.
Dengan pendekatan “jemput bola” dan validasi ketat inilah bantuan PIP di Takalar tidak hanya sekadar cair, tetapi benar-benar menyentuh anak-anak dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan.
Keberhasilan ini kini menjadi cambuk baru. Jika tahun ini berhasil menembus peringkat dua, mungkinkah tahun depan Takalar merebut tahta pertama? Optimisme itu kini menyeruak. Bupati Daeng Manye menegaskan bahwa penghargaan ini akan menjadi pemantik untuk terus memperluas akses dan meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Takalar kini tak hanya dikenal sebagai daerah yang berkembang secara infrastruktur, tetapi juga sebagai contoh nasional tentang bagaimana tata kelola bantuan pendidikan yang unggul bisa dimulai dari ketelitian dan integritas di tingkat paling dasar. (*)









