iklan Promo
News  

Idul Adha di Takalar: Saat Ribuan Jamaah Diajak Menemukan Kembali Makna Pengorbanan di Era yang Kian Individualistis

Takalar – Mentari pagi belum tinggi benar ketika ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Takalar tumpah di Lapangan H. Makkatang Dg. Sibali, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Rabu (27/5/2026). Mereka hadir bukan sekadar menunaikan kewajiban Salat Idul Adha 1447 Hijriah, tetapi juga mencari sejuknya kebersamaan yang kian sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk zaman.

Di tengah lautan manusia yang duduk bersimpuh di atas sajadah dan tikar, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye hadir dengan langkah kaki yang turun dari rumah jabatan. Bersama Anggota DPR RI Achmad Daeng Se’re, ia menyusuri jalan, menyapa satu per satu warga yang sejak pagi memenuhi kawasan lapangan. Tak ada sekat pejabat dan rakyat, yang ada hanyalah saudara seiman yang ingin bersujud pada Pencipta yang sama.

Mengenakan jas hitam, kemeja putih, sarung batik merah kecokelatan, dan kopiah hitam, Bupati Firdaus duduk di saf paling depan—bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Di sisinya, Wakil Bupati Hengky Yasin dan Achmad Daeng Se’re, sama-sama larut dalam kekhusyukan Salat Id yang diimami Adrian R, mahasiswa IAI STIBA Makassar, dan khutbah oleh Ustadz Baharuddin Zakariyah, S.Ag., Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Munawarah Takalar.

Namun, yang paling menusuk justru pesan yang mengalun dari mimbar.

Di era di mana manusia berlomba menumpuk keuntungan pribadi dan sibuk mengurusi ego masing-masing, Bupati Firdaus melemparkan pengingat: Idul Adha adalah cermin yang memantulkan kembali wajah asli pengorbanan.

“Melalui hari mulia ini, mari kita meneladani kisah Nabi Ibrahim AS sebagai teladan dalam menjalankan perintah Sang Pencipta,” ujarnya, suaranya menggema, menyentuh ribuan hati yang mendengar.

Ia tidak sedang berbicara tentang ritual penyembelihan hewan semata. Lebih jauh, ia ingin warganya memaknai Idul Adha sebagai momentum menyingkirkan kepentingan dan ego pribadi—sesuatu yang diam-diam menggerogoti sendi-sendi kebersamaan dalam kehidupan modern.

“Spirit yang terlahir sekian ratus tahun lalu itu masih sangat relevan hingga hari ini,” katanya menekankan, seakan menyadarkan betapa nilai-nilai luhur pengorbanan sering tenggelam oleh hasrat duniawi yang tak berkesudahan.

Di akhir sambutannya, ia mengajak semua elemen—masyarakat, tokoh agama, ASN, TNI, Polri, hingga para pelaku usaha—untuk memberikan pengorbanan yang lebih besar bagi Takalar. Bukan demi nama, bukan demi jabatan, melainkan demi kemajuan daerah yang berjangka panjang.

Ia juga tak lupa menitipkan doa untuk para jamaah haji asal Takalar yang tengah berjuang di Tanah Suci. Harapannya sederhana: semoga kembali dengan selamat dan menyandang predikat haji mabrur.

Pagi itu, di bawah langit Takalar, Idul Adha bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah titik hening untuk bertanya pada diri sendiri: seberapa besar pengorbanan yang sudah kita berikan untuk sesama?