iklan Promo

Mentan Amran Siapkan Tiga Pabrik Tepung Telur dan Daging, Impor Dibidik

JAKARTA,PO — Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging untuk memperkuat industri peternakan nasional. Proyek ini diarahkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan penyerapan hasil produksi, stabilitas harga, dan ketergantungan terhadap produk impor.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, rencana pembangunan tersebut merupakan bagian dari strategi mengintegrasikan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir. Pemerintah ingin memastikan peningkatan produksi petani dan peternak berjalan seiring dengan tersedianya pasar serta industri pengolahan yang memadai.

Menurut Amran, rencana tersebut telah dikoordinasikan bersama Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Pemerintah menargetkan pembangunan dapat dimulai pada 2027, dengan waktu penyelesaian sekitar 1,5 tahun hingga maksimal dua tahun.

“Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ujar Amran, Jumat (9/10/2026).

Amran menegaskan, keberadaan industri pengolahan dibutuhkan untuk mengatasi persoalan klasik peternakan, terutama ketika produksi melimpah sementara daya serap pasar terbatas. Tanpa sistem pengolahan dan penyimpanan yang memadai, peternak berisiko menghadapi tekanan harga ketika pasokan meningkat.

“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.

Investasi Awal Rp600 Miliar

Pemerintah akan menindaklanjuti rencana tersebut melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS). Berdasarkan perkiraan awal yang disampaikan Amran, investasi pembangunan setiap pabrik mencapai sekitar Rp200 miliar. Nilainya berpotensi meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Dengan estimasi tersebut, kebutuhan investasi awal untuk tiga pabrik diperkirakan mencapai Rp600 miliar. Angka itu masih berupa perkiraan awal dan dapat berubah sesuai hasil studi kelayakan serta cakupan fasilitas yang dibangun.

Amran meminta jajaran terkait mempercepat persiapan agar rencana pembangunan dapat segera memasuki tahap berikutnya. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta, tetapi menekankan pentingnya peran negara dalam memperkuat industri strategis tersebut.

“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” katanya.

Produksi Melimpah Tak Lagi Membebani Peternak

Pembangunan pabrik pengolahan ini diharapkan menciptakan rantai usaha yang saling terhubung. Petani jagung memperoleh peluang pasar untuk hasil panennya, peternak mendapat dukungan ketersediaan bahan baku pakan, sedangkan industri pengolahan menjadi alternatif penyerapan telur dan daging ayam ketika produksi berlebih.

Melalui pengolahan menjadi tepung, produk peternakan berpotensi memiliki masa simpan lebih panjang dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan. Skema ini diharapkan mengurangi ketergantungan peternak pada penjualan produk segar yang lebih rentan terhadap perubahan permintaan dan fluktuasi harga.

Amran mengatakan, penguatan industri pengolahan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan impor, tetapi juga dengan upaya menjaga keberlanjutan usaha peternakan di dalam negeri.

“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” ujarnya.

Peternak Sambut Rencana Pembangunan Pabrik

Rencana tersebut mendapat dukungan dari kalangan pelaku usaha peternakan. Ii Cahyadi, anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang, menilai pembangunan industri pengolahan berskala besar diperlukan untuk memperkuat pasar telur produksi peternak lokal.

Menurut Cahyadi, pembangunan industri semacam ini membutuhkan modal, kapasitas produksi, dan jaringan usaha yang sulit dipenuhi secara mandiri oleh peternak kecil maupun koperasi. Karena itu, keterlibatan pemerintah dinilai penting untuk membangun fondasi industri sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” kata Cahyadi.

Ia mengapresiasi respons Amran terhadap usulan pembangunan pabrik tersebut. Menurutnya, fasilitas pengolahan diharapkan tidak hanya membantu mengatasi persoalan pemasaran dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan jalur penyerapan yang lebih berkelanjutan bagi hasil produksi peternak.

“Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,” ujarnya.

Perkuat Ekosistem Peternakan dari Hulu ke Hilir

Amran menekankan bahwa peningkatan produksi harus diimbangi dengan ketersediaan pakan, kepastian pasar, dan kemampuan industri menyerap kelebihan pasokan. Tanpa keseimbangan tersebut, peningkatan produksi justru berpotensi menekan harga dan memperbesar risiko kerugian peternak.

Pemerintah juga mendorong penguatan konsumsi protein masyarakat melalui berbagai sumber pangan, termasuk ikan, ayam, dan telur. Upaya tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri, keterjangkauan harga, dan perluasan pasar.

“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” kata Amran.

Pembangunan tiga pabrik tersebut kini masih memerlukan tindak lanjut melalui studi kelayakan dan persiapan investasi. Keberhasilan program nantinya akan ditentukan oleh kesiapan fasilitas, kesinambungan pasokan bahan baku, kemampuan menyerap produksi peternak, serta daya saing produk olahan dalam negeri.

Jika berjalan sesuai rencana, industri tepung telur dan tepung daging berpotensi menjadi bagian penting dalam transformasi peternakan nasional. Tidak hanya memperluas nilai tambah hasil produksi, fasilitas tersebut diharapkan memperkuat pasar domestik, menekan ketergantungan impor, dan menciptakan usaha peternakan yang lebih berkelanjutan.

 

Sumber : Kementan RI

Editor : Tim Redaksi