iklan Promo

Kementan Ubah Strategi Pemuliaan Ternak, Genomik Jadi Kunci Seleksi Bibit Unggul

JAKARTA,PO– Peningkatan populasi ternak tidak cukup hanya mengandalkan jumlah dan penampilan fisik. Untuk menghasilkan ternak dengan kualitas genetik yang lebih baik, Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mendorong pemanfaatan teknologi genomik sebagai dasar seleksi bibit unggul yang lebih presisi dan berbasis data.

Pendekatan ini menjadi bagian dari transformasi pengembangan peternakan nasional. Melalui pembacaan informasi genetik, potensi ternak diharapkan dapat diidentifikasi lebih akurat sehingga proses pemuliaan berjalan lebih terarah dan efisien.

Kepala Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Deasy Zamanti, mengatakan pengembangan teknologi perlu diikuti perubahan peran kelembagaan agar peningkatan mutu genetik ternak tidak hanya bertumpu pada teknologi reproduksi.

Menurutnya, BET Cipelang kini diarahkan untuk memperluas layanan dari produksi embrio dan inseminasi menuju pemanfaatan informasi genetik dalam mengidentifikasi potensi unggul ternak.

“BET Cipelang tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi embrio, inseminasi, atau teknologi reproduksi, tetapi mulai bergerak menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mengidentifikasi potensi ternak secara lebih presisi,” ujar Deasy, dikutip Rabu (7/10/2026).

Transformasi tersebut dikembangkan melalui konsep BET to BEStGen, yakni penguatan fungsi balai dalam produksi embrio, pengujian, sertifikasi, dan pengelolaan bank genom.

Langkah ini dinilai penting untuk membangun sistem pemuliaan yang tidak hanya mengandalkan pengamatan fisik, tetapi juga mempertimbangkan informasi genetik sebagai dasar pengambilan keputusan.

Keterbatasan Data Jadi Tantangan

Salah satu persoalan yang masih dihadapi dalam peningkatan mutu genetik ternak di Indonesia adalah keterbatasan recording, yakni pencatatan silsilah dan performa ternak secara berkelanjutan.

Padahal, data tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas indukan, menilai hasil pemuliaan, serta menetapkan arah pengembangan generasi ternak berikutnya.

Teknologi genomik menawarkan pendekatan yang lebih terukur dengan memanfaatkan informasi genetik untuk membantu mengidentifikasi ternak yang memiliki potensi unggul. Dengan demikian, seleksi tidak semata-mata didasarkan pada ciri fisik atau performa yang terlihat.

“Proses peningkatan mutu genetik dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” kata Deasy.

Pemanfaatan genomik juga berpotensi memperkuat keterpaduan antara seleksi genetik dan teknologi reproduksi. Salah satunya melalui transfer embrio, yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak keturunan dari ternak dengan karakteristik genetik yang diinginkan.

Namun, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan fondasi data dan sistem penilaian genetik yang memadai. Deasy menegaskan pentingnya sertifikasi genomik dan genetik sebelum pengembangan teknologi rekayasa genetik dilakukan lebih jauh.

“Sertifikasi genomi dan genetik menjadi fondasi penting, sebelum teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuhnya.

Bank Genom untuk Konservasi dan Riset

Selain mendorong seleksi berbasis genomik, BET Cipelang menyiapkan Bank Genom sebagai tempat penyimpanan dan pengelolaan material genetik plasma nutfah ternak Indonesia.

Fasilitas ini diharapkan menjadi sumber daya strategis untuk mendukung penelitian, konservasi, serta pengembangan sumber daya genetik ternak dalam jangka panjang.

Keberadaan bank genom juga membuka peluang bagi pengelolaan kekayaan genetik ternak secara lebih sistematis, sehingga material genetik yang bernilai dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan penelitian dan program pemuliaan.

Di sisi lain, penerapan teknologi tersebut perlu berjalan seiring dengan penguatan pencatatan ternak, validitas data, dan kapasitas sumber daya manusia agar hasil seleksi dapat diterapkan secara konsisten.

Peternakan Presisi untuk Tingkatkan Produktivitas

Pentingnya penerapan teknologi dalam membangun peternakan presisi turut disampaikan CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Deddy F. Kurniawan.

Ia menilai peningkatan kebutuhan protein hewani harus diimbangi dengan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan. Karena itu, keputusan dalam program pemuliaan perlu didukung informasi yang akurat mengenai potensi genetik ternak.

“Kita butuh sistem peternakan yang presisi,” ujar Deddy.

Menurutnya, genomik dapat menjadi instrumen pendukung untuk menentukan pilihan dalam program pemuliaan, karena informasi genetik memungkinkan potensi ternak dinilai secara lebih terukur.

Transformasi menuju BEStGen menjadi salah satu langkah Kementan dalam memperkuat fondasi peternakan nasional melalui integrasi teknologi reproduksi, informasi genetik, pengujian, dan pengelolaan sumber daya genetik.

Keberhasilan penerapannya akan bergantung pada konsistensi pengembangan teknologi, kualitas data, serta pemanfaatannya dalam program pemuliaan di lapangan. Dengan fondasi tersebut, seleksi ternak unggul diharapkan semakin terarah untuk mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing peternakan Indonesia.

 

Kementan RI

Editor : Tim Redaksi