Oleh : Dr.H.M.Dahlan Abubakar, M.Hum
(Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel)
MAKASSAR,PO – Saya baru tahu kalau Arwan D.Awing mengelola sebuah media daring (online) yang kini sudah berusia enam tahun. Publikasionline.id. Saya sering berinteraksi dengan Daeng Awing, tetapi sekali pun tidak pernah memberi tahu kalau ada media yang dikelola di Bantaeng sana.
Bukan apa-apa. Hanya membayangkan, betapa sosok wartawan yang satu ini begitu sibuk mengelola media. Selain NusantaraInsight.com — di dalamnya saya juga sering menulis dan mengirim berita/tulisan dan diangkat sebagai Pembina — juga masih ada Bugispos. Media yang harus tetap hidup. Dia legacy dari seorang wartawan berkarakter mendiang Usdar Nawawi. Al Fatihah buat almarhum, semoga segala amat ibadahnya di terima Allah swt.
Pada era perkembangan teknologi informasi seperti ini, membangun media online merupakan sebuah keniscayaan. Tidak boleh tidak. Sebab, media daring ini menghapus semua batas dan kendala literasi yang dialami para pembaca jika harus membaca media cetak.
Media daring telah membuat khalayak dininabobokkan dengan informasi yang disajikan. Telah dimanjakan dengan kemudahan mengakses. Para pembaca hanya dari tempat tidur bisa mengetahui informasi yang berkembang di luar sana. Bahkan di kamar mandi sekalipun (kalau gawainya ikut) bisa membaca perkembangan dunia yang sedang berlangsung.
Di balik keniscayaan itu, juga terselip tantangan yang dhadapi. Yakni, ketatnya persaingan antarmedia sejenis merebut hati para pembacanya. Di sini tidak akan berlaku siapa yang kuat akan menang. Sebab, media daring tidak seperti orang bermain bola. Tim mana yang banyak berhasil mencetak gol itulah yang menang. Yang berlaku adalah siapa yang menawarkan ‘hidangan’ (berita) yang menarik itu yang memperoleh tempat. Media mana yang menarik perhatian pembaca itulah yang tampil sebagai kampiun.
Bagi media daring yang hendak memperoleh tempat di hati masyarakat harus memiliki beberapa indikator.
Pertama, beritanya harus segera tayang. Bagaikan hidangan, dia masih panas. Media daring sedapat mungkin harus menyajikan informasi yang masih fresh (segar). Indikator ini menuntut wartawan dan media tersebut menjadi terdepan dalam pemberitaan. Wartawan juga harus kreatif.
Kedua, taat asas jurnalistik. Dia harus on the track journalism. Maksudnya, dia harus menyajikan karya jurnalistik berdasarkan segala aturan jurnalistik yang ada.
Saat ini, banyak wartawan yang mengabaikan kode etik jurnalistik. Terutama berkaitan dengan tuntutan kode etik jurnalistik. Saya mengamati, dalam praktiknya, ada wartawan yang mengabaikan cover both side (peliputan kedua sisi) — istilah praktisnya konfirmasi — setelah berita pertama dimuat. Harapannya, jika ada complain dari pembaca cukup disediakan hak jawab.
Pandangan seperti itu keliru. Hak jawab berlaku apabila di dalam berita yang terkonfirmasi terdapat hal-hal yang kurang memuaskan narasumber atau pihak tertentu. Jadi, bukan berita atau informasi baru. Dia merupakan informasi yang dianggap perlu ditambahkan oleh narasumber.
Pemberitaan tanpa konfirmasi seperti itu telah menjebak para wartawan melanggar kode etik jurnalistik yang harus ditegakkannya. Jadi, wartawan sudah terkena offside. Lantaran sudah melanggar rambu-rambu jurnalistik yang seharusnya ditaati.
Ketiga, konten media daring harus menarik. Artinya, pembaca akan merasa ada yang tidak lengkap dalam kesehariannya jika tidak membaca media tersebut. Konten atau berita yang menarik ini adalah tulisan-tulisan ringan berbentuk feature. Tulisan ringan yang bisa membuat tertawa tersenyum sendiri.
Satu contoh yang diabaikan oleh media selama ini adalah pada saat peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Adakah media yang pernah menurunkan berapa banyak penjualan dan kebutuhan telur, ayam, bakul, dan sebagainya untuk keperluan upacara maulid sepanjang bulan Rabiulawal? Rasanya saya tidak pernah membacanya. Kisah-kisah para pedagang ayam di pasar atau peternak ayam pedaging juga menarik.
Keempat, menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Misalnya harga kebutuhan pokok di pasar. Informasi ini tampak sepele, tetapi sangat dibutuhkan oleh masyatakat.Harga komoditas yang andalan daerah rasanya penting diketahui. Begitu pun harga sembilan bahan pokok di beberapa daerah, termasuk daerah Bantaeng yang menjadi basis media ini.
Kelima, ciptakan peace journalism (jurnalisme damai). Maksudnya, jangan menawarkan berita yang berpotensi menimbulkan konflik. Bukan berarti media tidak boleh mengkritik. Boleh. Tetapi dengan cara yang santun dan elegan. Dengan bahasa yang sejuk.
Dalam dunia jurnalistik kerap digunakan istilah mengkritik bagaikan bermain karambol. Memukul ke suatu tempat untuk memasukkan biji karambol ke lubang dengan sistem pantulan.
Artinya, orang berpikir baru merasakan bahwa dia sedang dikritik. Sangat berbeda jika mengkritik dengan diksi dan bahasa yang sarkastis dan langsung yang bisa menimbulkan kegeraman pihak yang dikritik.
Keenam, memiliki wartawan yang memiliki skill jurnalistik yang harus diacungi jempol. Wartawan yang kreatif dan inovatif. Wartawan yang terdidik dan terlatih. Wartawan adalah seorang intelektual. Dia harus selalu berpikir. Membayangkan apa dan apa lagi yang harus dibuat. Bukan hanya menunggu siaran pers. Atau menunggu kiriman berita kopian dari teman yang ternyata hanya menerima informasi di warung kopi. Wartawan yang baik harus meliput. Mendatangi tempat kejadian perkara.
Ketujuh, untuk mencapai lima poin itu, diperlukan wartawan yang memiliki nose for news yang andal. Wartawan yang mampu melihat sesuatu yang sederhana menjadi tidak sederhana. Sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Sesuatu yang tidak menarik menjadi menarik. Di sinilah perbedaan antara orang awam dengan jurnalis. Dia mampu memaknai sesuatu yang oleh orang lain tidak mampu memaknainya.
OK. Selamat berulang tahun. Semoga tetap lekat di hati para pembaca, Wassalam.
Makassar, 22 September 2026.









