BANTAENG,PO — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bantaeng, dinamika regenerasi kepemimpinan mulai mengemuka. Sejumlah nama mencuat dalam bursa kandidat, salah satunya Aso Alif yang menyatakan kesiapan mengambil bagian dalam kontestasi kepemimpinan organisasi kepemudaan tersebut.
Aso Alif membawa gagasan untuk mendorong KNPI Bantaeng menjadi lebih dari sekadar wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan (OKP). Ia ingin KNPI hadir sebagai rumah bersama yang mampu menyatukan potensi pemuda, memperkuat kolaborasi lintas organisasi, serta melahirkan program nyata bagi kemajuan daerah.
Baginya, kekuatan KNPI terletak pada keberagaman OKP yang berhimpun di dalamnya. Perbedaan latar belakang, pandangan, dan karakter organisasi semestinya tidak menjadi sekat, melainkan modal sosial untuk membangun gerakan kepemudaan yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
Salah satu fokus yang ingin didorong Aso Alif adalah memperkuat konsolidasi antarpemuda dan OKP. Menurut gagasan yang ditawarkannya, KNPI perlu membuka ruang komunikasi dan kerja sama yang lebih luas agar setiap organisasi memiliki kesempatan berkontribusi dalam merumuskan agenda kepemudaan di Kabupaten Bantaeng.
Dengan konsolidasi yang kuat, KNPI diharapkan mampu menghimpun beragam potensi menjadi kekuatan kolektif. Organisasi ini tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan, tetapi juga ruang untuk menerjemahkan aspirasi pemuda menjadi program yang terukur dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Arah tersebut juga mencakup penguatan sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Kolaborasi yang dibangun, menurut gagasan Aso Alif, perlu diarahkan pada kebutuhan konkret pemuda, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, hingga penguatan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, hubungan KNPI dan pemerintah daerah tidak berhenti pada agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang mendorong lahirnya peluang dan ruang aktualisasi bagi generasi muda.
Selain konsolidasi organisasi, pemberdayaan ekonomi pemuda menjadi salah satu agenda yang ingin diperkuat Aso Alif. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai memiliki ruang strategis untuk mendorong kemandirian generasi muda sekaligus membuka peluang usaha di daerah.
Dalam konsep tersebut, KNPI dapat mengambil peran sebagai penghubung antara pemuda, pelaku UMKM, pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, pengembangan produk lokal, pemasaran digital, hingga perluasan jejaring bisnis. Langkah tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi pemuda untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal Bantaeng.
“Orientasi kita adalah bagaimana KNPI ke depan bisa menjadi rumah bersama seluruh pemuda dan OKP. Kita ingin membangun kolaborasi yang konkret dengan pemerintah daerah, terutama dalam menciptakan ruang usaha dan pemberdayaan ekonomi bagi pemuda,” demikian garis besar gagasan yang dibawa Aso Alif.
Ia juga mendorong agar OKP memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan kapasitas anggotanya, termasuk dalam bidang ekonomi. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, serta jejaring kemitraan, organisasi kepemudaan diharapkan mampu mengembangkan program produktif tanpa meninggalkan fungsi sosial dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Bagi Aso Alif, Musda KNPI Bantaeng bukan semata-mata agenda pergantian kepemimpinan. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk merumuskan arah gerakan kepemudaan yang lebih terbuka, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman.
Kepemimpinan KNPI ke depan, dalam gagasan yang ditawarkannya, perlu memberi ruang partisipasi yang setara bagi seluruh OKP. Tidak boleh ada potensi pemuda yang terabaikan hanya karena perbedaan latar belakang organisasi.
Sinergi antara KNPI, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, pelaku UMKM, lembaga pendidikan, dan sektor swasta juga dipandang penting untuk membangun ekosistem kepemudaan yang produktif.
Melalui kerja sama yang berkesinambungan, KNPI diharapkan mampu menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan kader dan masyarakat, terutama dalam peningkatan kapasitas, pengembangan usaha, serta perluasan kesempatan bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Gagasan tersebut menempatkan persatuan, kolaborasi, dan kemandirian ekonomi sebagai isu penting dalam menyongsong kepemimpinan baru KNPI Bantaeng.
Pada akhirnya, tantangan KNPI bukan hanya menghimpun organisasi dalam satu wadah, melainkan memastikan kebersamaan itu menghasilkan kerja nyata. Bagi Aso Alif, pemuda Bantaeng perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkreasi, berinovasi, membangun usaha, dan mengambil peran aktif dalam menentukan masa depan daerah.
Reza









