MAKASSAR,PO— Deretan papan bunga berdiri rapi di pekarangan Hotel Unhas Makassar, Rabu (7/1/2026). Ucapan selamat dan doa mengalir dalam diam. Di antaranya, tampak kiriman dari Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan H. Iqbal Nadjamuddin, S.E. Kehadiran papan bunga itu menjadi penanda bahwa sebuah perjalanan panjang tengah mencapai satu titik penting.
Di balik warna-warni bunga tersebut, seorang pria dengan jas merah almamater Universitas Hasanuddin melangkah tenang memasuki Ruang Foyer Lagoon View Idea 1 & 2. Tangannya menyatu di depan dada gestur hormat yang sederhana, namun menyimpan keteguhan. Ia adalah Wahid Hidayat, yang hari itu resmi mengikuti sidang yudisium Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin.
Sidang berlangsung khidmat dan penuh makna. Hadir Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prof. Phil. Sukri, M.Si., serta sivitas akademika Unhas. Sebuah prosesi formal yang di dalamnya tersimpan kisah tentang kesabaran, konsistensi, dan keyakinan pada proses.
Disertasi yang mengantarkan Wahid ke titik ini berjudul “Audit Komunikasi Digital Supervisi Akademik di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Bantaeng.” Riset tersebut lahir dari kegelisahan yang nyata—tentang bagaimana supervisi akademik dijalankan di tengah percepatan teknologi digital, dan bagaimana relasi manusia tetap dijaga di dalamnya.



Dalam keterangannya kepada tim redaksi publikasionline.id melalui wawancara via WhatsApp, Wahid mengungkapkan bahwa transformasi digital memang membawa efisiensi dalam supervisi akademik. Namun, ia menemukan bahwa teknologi tidak selalu sejalan dengan kedalaman komunikasi.
“Supervisi akademik tidak cukup hanya cepat dan terdokumentasi secara digital. Ia harus tetap membangun relasi antara supervisor dan guru,” ujarnya.
Dari temuan tersebut, Wahid merumuskan Model Supervisi Akademik Digital–Interpersonal Hibrida sebuah pendekatan yang memadukan efisiensi teknologi digital dengan kekuatan komunikasi tatap muka. Model ini berpijak pada pemikiran Joseph A. DeVito tentang komunikasi efektif yang menumbuhkan empati, keterbukaan, dan kepercayaan, serta gagasan Manuel Castells mengenai masyarakat jaringan yang menegaskan bahwa konektivitas tidak selalu berarti kedekatan makna.
Penelitian ini dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si., bersama Ko-Promotor Dr. H. Muhammad Farid, M.Si., serta diuji oleh Prof. Dr. Muhammad Akbar, M.Si., Prof. Dr. Arianto, S.Sos., M.Si., Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si., dan Penguji Eksternal Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., M.Psi., Psikolog. Komposisi penguji ini mencerminkan keluasan perspektif yang menguji gagasan Wahid dari berbagai sudut pandang.
Bagi banyak tamu yang hadir, disertasi ini terasa membumi. Bantaeng lokus penelitian bukan sekadar objek akademik, melainkan ruang pengabdian. Tak heran jika dukungan mengalir dari berbagai pihak. Selain pejabat daerah dan pemangku kebijakan pendidikan, keluarga besar SMAN 1 Bantaeng turut hadir memberikan doa dan kebanggaan.
Ketika sidang usai dan ruangan mulai lengang, papan bunga di pekarangan hotel masih berdiri tegak. Diam, namun penuh makna. Ia menjadi saksi bahwa perjalanan Wahid Hidayat tidak dibangun oleh sorak, melainkan oleh kerja sunyi, kesetiaan pada proses, dan keberpihakan pada pendidikan yang manusiawi.
Dari Bantaeng ke Makassar, jejak itu kini menemukan namanya. Bukan sekadar gelar doktor, tetapi tanggung jawab baru untuk memastikan bahwa di tengah derasnya teknologi, pendidikan tetap berjalan dengan wajah yang manusiawi.
Kontri : Abhy








