MAKASSAR,PO— Kandidat Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, Wahid Hidayat, resmi mengikuti sidang yudisium doktoral setelah menuntaskan disertasi berjudul “Audit Komunikasi Digital Supervisi Akademik di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Bantaeng” (Digital Communication Audit of Academic Supervision in Senior High Schools of Bantaeng Regency).
Sidang yudisium berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri pimpinan universitas serta sivitas akademika Universitas Hasanuddin. Hadir sebagai tamu kehormatan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prof. Phil. Sukri, M.Si., serta jajaran promotor dan penguji disertasi.

Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., Psikolog selaku penguji eksternal, Prof. Dr. Muhammad Akbar, M.Si., Prof. Dr. Arianto, S.Sos., M.Si., serta Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si. Sidang dipandu oleh Dr. H. Muhammad Farid, M.Si. selaku Sekretaris Sidang sekaligus Ko-Promotor, dengan pendampingan akademik dari Promotor Prof. Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si.



Dalam keterangannya kepada tim redaksi publikasionline.id melalui wawancara via WhatsApp, Wahid Hidayat menjelaskan bahwa disertasinya berangkat dari realitas perubahan praktik supervisi akademik di sekolah menengah akibat percepatan transformasi digital.
“Teknologi digital memang mempercepat proses supervisi, tetapi efektivitasnya sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi interpersonal antara supervisor dan guru,” ujar Wahid Rabu 7 Januari 2026.
Ia menegaskan, penelitian ini menemukan bahwa supervisi akademik yang hanya mengandalkan sistem digital berisiko kehilangan makna pembinaan apabila tidak disertai relasi komunikasi yang empatik dan dialogis. Karena itu, Wahid merumuskan Model Supervisi Akademik Digital–Interpersonal Hibrida, yang memadukan efisiensi teknologi digital dengan kekuatan komunikasi tatap muka.

Model tersebut, lanjutnya, disusun dengan merujuk pada pemikiran Joseph A. DeVito tentang komunikasi efektif sebagai proses membangun makna bersama melalui empati, keterbukaan, dan kepercayaan. Selain itu, gagasan Manuel Castells tentang masyarakat jaringan digunakan untuk menjelaskan bahwa konektivitas digital yang luas tidak otomatis menghadirkan kedalaman makna tanpa interaksi manusiawi.
“Teknologi harus menjadi alat, bukan pengganti relasi. Supervisi akademik tetap membutuhkan sentuhan manusia sebagai inti pembinaan profesional guru,” jelasnya.
Capaian akademik Wahid Hidayat turut mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak. Hal itu terlihat dari deretan papan ucapan selamat yang hadir di lokasi kegiatan. Ucapan datang dari Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Bantaeng, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, keluarga besar, para kepala sekolah, hingga kolega dan sahabat yang selama ini mendampingi perjalanan akademik dan profesionalnya.
Selain keluarga inti, keluarga besar SMAN 1 Bantaeng juga hadir memberikan dukungan, menjadi saksi perjalanan panjang pengabdian Wahid Hidayat di dunia pendidikan. Dukungan tersebut mempertegas bahwa capaian doktoral ini tidak semata keberhasilan personal, melainkan hasil kolaborasi, kepercayaan, dan doa dari banyak pihak.
Melalui disertasi ini, Wahid Hidayat berharap temuannya dapat berkontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan dan praktik supervisi akademik di era digital, khususnya di Sulawesi Selatan, dengan tetap menempatkan nilai-nilai kemanusiaan, relasi profesional, dan etika akademik sebagai fondasi utama.
Kontri : Abhy








