iklan Promo
Tak Berkategori  

Kata Mahfud MD soal Prabowo jadi Menhan

Jakarta, Publikasi Online – Pengangkatan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) menuai pro dan kontra di tengah masyarakat

Bahkan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD turut berkomentar di dalamnya. Namun ia memandang pengangkatan itu wajar-wajar saja.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menyebut, bukan hanya Prabowo Subianto yang mendapat dukungan dan penolakan.

Sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Maju, juga menimpa hal yang sama di tengah pergolakan opini masyarakat.

“Semua menteri pasti ada yang mendukung, ada yang menolak. Saya juga jadi Menko Polhukam ‘Kok jadi Menko Polhukamnya?’ Menteri lain juga sama. Tuh Menteri Agama, Menteri BUMN, ada yang mendukung, ada yang menolak juga kan,” kata Mahfud di saat ditemui di kantornya Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Namun Mahfud berharap agar hal itu tidak dibesar-besarkan. Meski harus ia akui, penolakan oleh masyarakat atas hak prerogatif Presiden Jokowi atas pengangkatan Prabowo.

Baginya hal itu adalah kebebasan berpendapat, sekaligus opini yang tidak mesti dilarang.

“Kalau pemerintah seperti saya, silakan saja mau menolak mau mendukung, presiden sudah mengangkat. Bukan hanya Prabowo yang ditolak. Sekali lagi, Menag ramai (penolakan) juga. Erick Thohir (Menteri BUMN) dianggap terlalu muda, Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dianggap tidak punya track record. Tapi sebagian besar masyarakat kan memberikan dukungan juga,” ujar Mahfud.

Mahfud mengatakan, meski terjadi penolakan dari masyarakat, tetapi hal itu tidak bisa menganulir hak prerogatif Presiden Jokowi.

Menurut Mahfud, Presiden Jokowi tidak mungkin kemudian memberhentikan Prabowo lantaran ada penolakan dari masyarakat. Pasalnya, itu sudah menjadi hak prerogratif presiden. Bekas Wali Kota Solo itu, kata Mahfud, pasti telah mempertimbangkannya matang-matang. Menurutnya, belum tentu jika Prabowo menjadi Menhan semua yang dikhawatirkan masyarakat terjadi. Mungkin malah sebaliknya.

“Sama dengan apa gunanya Pancasila, kok masih banyak yang korupsi, kok masih banyak kejahatan moral.  Bisa dibalik juga, apa gunanya ada agama kalau begitu, apa gunanya ada Alquran? Kok masih banyak pencuri di desa, kok banyak koruptor dari orang Islam, itu persoalannya,” ucap Mahfud.

Mahfud mengingatkan kepada masyarakat agar segala persoalan disikapi dengan bijak. Hendaknya masyarakat lebih berpikiran positif untuk setiap suatu keburukan yang dilihat. “Cara melihat masalah tidak seperti itu. Mari setiap masalah itu kita perbaiki dan selesaikan dan diarahkan ke arah yang benar,” kata Mahfud.