MAKASSAR,PO — Tidak semua pencapaian besar lahir dari mereka yang berdiri di podium. Sebagian justru lahir dari kerja sunyi di balik layar. Itulah gambaran perjalanan Rahman Ramlan, yang selama lima tahun terakhir dikenal sebagai Tenaga Ahli (TA) Inovasi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Jejak pengabdian Rahman Ramlan tidak hanya tercatat di Kabupaten Bantaeng, tetapi juga meluas ke sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Melalui keterlibatannya dalam berbagai forum perencanaan pembangunan daerah, ia berperan dalam menata dan mengawal implementasi inovasi kebijakan yang diinisiasi oleh para inovator, sehingga inovasi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam mekanisme kompetisi pada tingkat provinsi hingga nasional sebagai bentuk pengakuan institusional. Sejumlah praktik inovasi tersebut bahkan berhasil menembus level nasional dan menjadi rujukan bagi daerah lain untuk direplikasi.
Meski kontribusinya luas, Rahman Ramlan jarang tampil di panggung seremoni. Ia lebih sering duduk di barisan belakang, mengawal proses, menyusun konsep, dan memastikan ide berjalan menjadi kebijakan. Namun, kerja senyap itu akhirnya mendapat pengakuan terbuka dalam sidang promosi doktornya di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (12/2/2026).
Dalam forum akademik tersebut, Ketua Sidang Promosi Doktor, Prof. Dr. Wahira, M.Pd, menyebut Rahman Ramlan sebagai “sutradara” dari berbagai capaian inovasi daerah, meski tidak pernah berdiri di depan kamera atau mikrofon. Pernyataan itu disampaikan di hadapan para penguji dan tamu undangan, dan sontak disambut tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.

Sidang promosi doktor itu sekaligus menandai puncak perjalanan akademik Rahman Ramlan setelah ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Implementasi Kebijakan Inovasi, Visi dan Strategi di Bappeda Kabupaten Bantaeng.” Ia resmi menyandang gelar doktor bidang Administrasi Publik dengan predikat Cum Laude.
Pengalaman panjangnya sebagai TA Inovasi di berbagai daerah menjadi fondasi kuat bagi disertasinya. Penelitian tersebut tidak hanya lahir dari kajian teoritis, tetapi juga dari praktik langsung di lapangan, tempat kebijakan diuji oleh realitas birokrasi dan kebutuhan masyarakat.
Bagi banyak tamu yang hadir, kisah Rahman Ramlan menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu digerakkan oleh mereka yang terlihat paling depan. Ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam, menyusun strategi, dan memastikan inovasi berjalan. Dan pada hari itu, kerja sunyinya menemukan panggung tersendiri bukan di podium pemerintahan, melainkan di ruang akademik, dengan tepuk tangan sebagai pengakuan.
Abhy








