iklan Promo

Dies Natalis HMI dan Jejak Perjalanan Cabang Bantaeng: Merawat Tradisi, Menjawab Zaman

BANTAENG,PO- Setiap peringatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi historis atas ikhtiar panjang kader umat dan bangsa. Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI hadir sebagai organisasi kader yang memadukan keislaman dan keindonesiaan, serta konsisten menjadikan intelektualitas dan pengabdian sebagai poros gerakannya.

Dalam lintasan sejarah nasional tersebut, HMI Cabang Bantaeng merupakan bagian dari denyut yang sama meski lahir di masa yang relatif muda, namun bertumbuh dengan semangat yang tak kalah kuat. Secara sah dan konstitusional, HMI Cabang Bantaeng terbentuk melalui Musyawarah Cabang pertama pada 1 Februari 2020, sebuah tonggak penting yang menandai kehadiran HMI secara struktural di Kabupaten Bantaeng. Pada momentum itu, saya dipercaya oleh kader untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum pertama.

Periode awal kepengurusan tentu bukan masa yang mudah. Cabang yang baru berdiri dituntut untuk segera membangun fondasi organisasi, memperkuat kualitas kaderisasi, serta memastikan eksistensi HMI di tengah dinamika lokal yang kompleks. Namun, justru dalam keterbatasan itulah semangat kolektif kader diuji dan ditempa.

Salah satu capaian penting dalam perjalanan tersebut adalah keberhasilan pelaksanaan Intermediate Training (LK II) Nasional pada tahun 2022. Bagi cabang muda, penyelenggaraan training tingkat menengah berskala nasional bukan sekadar prestasi administratif, melainkan bukti kematangan organisasi, kapasitas kader, serta kepercayaan struktural dari HMI secara nasional. Kegiatan ini menjadi penanda bahwa HMI Cabang Bantaeng tidak hanya hadir secara formal, tetapi juga mampu berkontribusi pada proses kaderisasi nasional.

Perjalanan itu berlanjut pada tahun 2023, ketika melalui Rapat Harian Pengurus Besar HMI, Cabang Bantaeng resmi ditetapkan sebagai cabang penuh. Status ini sekaligus mengukuhkan posisi HMI Cabang Bantaeng dalam struktur organisasi nasional. Pada fase ini pula, saya bersama kader dan sahabat-sahabat cabang berkesempatan mengikuti Kongres HMI sebagai peserta penuh, sebuah pengalaman penting dalam tradisi demokrasi organisasi dan dialektika gagasan di tingkat nasional.

Hari ini, HMI tetap eksis bukan hanya sebagai nama besar dalam sejarah, tetapi sebagai organisasi yang terus berproses menjawab tantangan zaman. Di tingkat nasional maupun regional, termasuk di Kabupaten Bantaeng, HMI dihadapkan pada problem kebangsaan yang kian kompleks: ketimpangan sosial, krisis moral publik, degradasi demokrasi, hingga tantangan pembangunan daerah.

Di titik inilah, Dies Natalis HMI menemukan relevansinya. Ia mengingatkan bahwa HMI tidak dilahirkan untuk menjadi penonton sejarah, melainkan bagian dari solusi. Kader HMI dituntut untuk terus berpikir kritis, bersikap progresif, namun tetap berakar pada nilai keislaman dan keindonesiaan. Bagi HMI Cabang Bantaeng, perjalanan yang telah dilalui hendaknya menjadi modal moral dan organisatoris untuk terus berkontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.

Akhirnya, Dies Natalis HMI bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang merawat tradisi perjuangan dan meneguhkan orientasi masa depan. Dengan semangat kolektif, integritas kader, dan keberpihakan pada kepentingan umat serta bangsa, kita berharap HMI di mana pun berada senantiasa relevan, solutif, dan berdaya guna.

Abhy